You are here
Home > CERITA > Cerita Seks Ngentot Dengan Tante Girang Bahenol

Cerita Seks Ngentot Dengan Tante Girang Bahenol

Cerita Seks Tante – Yang menceritakan sepasang suami istri yang memiliki hubungan seksual yang biasa saja. Disamping itu pasangan ini kerap bersifat sombong kepada setiap orang termasuk pada pembantunya sendiri. sukasange.com sudah merangkum cerita seks ini agar bisa memberikan fantasi seksual yang berbedah buat anda.

Cerita Seks Ngentot Dengan Tante Girang Bahenol – Sebagai seorang ibu muda, kehidupan Ayu amatlah sangat monoton, tidak ada yang menonjol. Hari-harinya dilalui untuk merawat dan mengasuh kedua anaknya yang lucu-lucu. Sedangkan suaminya adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan yang bonafit di Jakarta. Ayu adalah seorang ibu rumah tangga yang berumur 28 tahun, ia amat memperhatikan perawatan dan kecantikan tubuhnya, sesuai anjuran dari ibunya sejak ia remaja.

Selain memiliki wajah yang cantik dan ditunjang dengan bentuk tubuh yang ramping dan kulit yang putih, Ayu amat memperhatikan penampilannya. Ia tidak ingin suaminya Yudi akan berpaling kepada wanita lain, hanya dengan alasan klasik yaitu kecantikan dan penampilannya sebagai istri.

Di rumahnya yang terbilang megah, Ayu menghabiskan waktu ikut senam dan kebugaran. Namun akhir-akhir ini, Yudi amat sibuk dengan pekerjaan kantornya, sehingga membutuhkan perhatian dan kerja extra, hampir tidak ada waktu luang bagi Yudi untuk bermesraan dan berlibur dengan anak-anaknya. Dengan menanjaknya karir Yudi karena dia diangkatnya sebagai manager baru di daerah baru di kawasan timur Indonesia, dengan sendirinya Yudi mengajak pindah keluarganya ke daerah itu.

Di daerah baru itu Yudi menempati sebuah rumah dinas yang amat megah dan luas. Di rumah dinasnya itu telah tersedia segala perabotan dan kendaraan yang dibutuhkan oleh Yudi sekeluarga, juga telah ada seorang pembantu dan tukang kebun yang merangkap satpam di rumah itu.

Seperti bisanya, Yudi terus larut dengan kesibukannya dengan kunjungan ke daerah yang merupakan daerah kepulauan itu, dan perjalanannya memakan waktu 1 sampai 2 minggu. Tidak heran jika Ayu sering tinggal di rumah dan sangat khawatir akan keselamatan Yudi.

Kehidupan rumah tangga mereka yang telah berjalan kurang lebih 8 tahun telah mereka lalui dengan penuh kemesraan dan keserasian, sehingga membuat iri teman-teman Yudi. Yudi tidak melupakan kehidupan sex dan rutin menjaga kemesraanya dengan Ayu.

Tetapi sayangnya, karena pengaruh kehidupan kota yang egois sering membuat kedua pembantunya tersinggung. Bagaimanapun Ayu adalah seorang wanita yang dibesarkan di dalam lingkungan keluarga berada dan segala keinginannya selalu didapatkan, begitu juga dengan Yudi yang memiliki latar belakang yang sama. Yudi sering menghardik Pak Manto tukang kebunnya. Pak Manto adalah tukang kebun di rumah itu telah lama bekerja, tidak pernah ia diremehkan oleh majikannya terdahulu, tidak seperti Yudi dan Ayu yang sering memandang rendah kepadanya.

Kalau dilihat, usia Pak Manto seusia orangtua Yudi yang telah berumur 68 tahun dan Pak Manto adalah juga penduduk asli di daerah itu. Masa mudanya Pak Manto amat ditakuti oleh masyarakat sekitarnya, dulunya ia adalah seorang penjahat dan gembong rampok yang memiliki ilmu yang tinggi dan sudah beberapa kali keluar masuk penjara di daerah itu, tidak heran hampir seluruh badannya dipenuhi tato.

Suatu hari Yudi dan Ayu pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan pulangnya ia mendapati Pak Manto sedang tidur, sehingga pintu pagar rumah itu tidak ada yang membuka. Setelah digedor beberapa kali, akhirnya Pak Manto bangun.
Dengan kasar dan marah-marah, Ayu memaki-maki Pak Manto, “Dasar tua bangka, malas, apa saja kerja kamu hah..?” sengit Ayu yang disaksikan Yudi dari atas mobilnya.
“Maaf Nya, saya tertidur, sekali lagi maafkan saya Nya.” kata Manto memohon.
“Cih..” Ayu meludahi wajah Manto lalu berlalu.
“Kamu tak perlu diberi maaf, kamu kerja saya gaji, masa masih malas..?” sahut Ayu berlalu dari hadapan Manto.

Pak Manto hanya menunduk dan merasakan amat pedih di dadanya dihina dan direndahkan oleh kedua suami istri itu. Lalu timbullah pikiran jahat di dalam hatinya, padahal ia telah lama berusaha untuk selalu berbuat benar dan lurus. Bagaimanapun naluri jahat dalam dirinya kembali muncul, ia akan membalas perlakuan Yudi dan Ayu itu yang telah kelewatan. Ia tahu, Yudi sering ke luar kota untuk saat yang lama, sedang Ayu tinggal di rumah itu dengan kedua anaknya. Ia ingin Ayu bertekuk lutut minta belas kasihan kepadanya. Bagaimanapun usianya saat ini, ia masih mampu untuk menaklukkan wanita, ditunjang dengan ilmu mistis yang dimilikinya.

Ia tahu, Ayu pun pada saat-saat tertentu pasti membutuhkan kemesraan dari Yudi. Pak Manto amat berpengalaman dalam soal sex, ia tahu Ayu termasuk dalam katagori wanita yang tidak dapat menahan nafsu, apalagi jika sering ditinggal suaminya beberapa hari.

Pada hari itu Yudi berangkat ke daerah untuk meninjau proyek yang ia tangani di sebuah pulau yang memakan waktu beberapa hari. Saat itulah yang dinanti-nanti Pak Manto. Di kamarnya ia telah menyiapkan beberapa sesajen untuk mengadakan ritual memantapkan ajian pemikat yang ia miliki. Saat itu Ayu di kamarnya yang luas yang dilengkapi AC yang bersuhu dingin itu amat kedinginan, gairah nafsunya menghentak-hentak, padahal sebelum berangkat Yudi telah menyirami batin Ayu dengan beberapa ronde, namun aneh saat itu ia ingin kembali mengulanginya.

Kemudian Ayu berjalan ke luar kamarnya, terlihat tubuh mulusnya terbungkus baju tidur sutra yang halus, sehingga lekuk tubuhnya yang indah itu terbentuk. Ia melihat ke sekeliling ruang rumahnya, semua sudah tidur dan hanya ia yang masih bangun. Ingin rasanya ia bermasturbasi, namun ia sadar tidak akan memuaskannya, Ayu berpikir keras untuk meredam nafsunya itu.

Semakin malam hari semakin dingin, dan begitu juga nafsunya ingin disalurkan, namun kepada siapa? Sedang Yudi saat ini masih berada di luar kota. Di kamarnya Pak Manto terus mengadakan ritual mistis, ia ingin agar Ayu benar-benar datang minta belas kasian kepadanya.

Pak Manto sudah tidak dapat lagi menahan nafsu dendamnya kepada Yudi dan Ayu, meskipun selama ini ia sering melihat Ayu yang cantik dan menggairahkan itu dalam kamar dan rumahnya, namun PAk Manto selalu dapat mengatasinya. Secara lahiriah ia akui Ayu amat menggoda gairahnya, namun pikiran itu ia buang jauh-jauh, ia tidak ingin membuat masalah. Sebenarnya dari dulu ia dapat saja memelet Ayu dan ia gauli sesukanya, namun karena tindakan Yudi dan Ayu amat kelewatan, maka ia tidak dapat menahan lagi untuk melakukan itu sekarang.

Kemudian Ayu menuruni anak tangga rumahnya dan berjalan ke ruang tamunya. Di luar hari mulai hujan dan diiringi petir. Lalu ia berjalan ke kamar pembantunya (Mbok Ijah), namun Mbok Ijah telah tidur. Kamar Pak Manto terletak di samping garasi rumah itu. Lalu Ayu berjalan ke arah kamar Pak Manto.

Tiba-tiba pintu kamar Pak Manto terbuka, saat itu Ayu sempat mencium aroma menyan yang dibakar Pak Manto saat itu. Dalam kamarnya Pak Manto memanggil Ayu dengan suara serak, Pak Manto saat itu telah tahu bahwa Ayu akan mendatanginya. Ayu melihat ke dalam kamar itu, ia melihat di kamar itu hanya diterangi lampu 5 watt, sehingga samar-samar ia melihat Pak Manto duduk bersila di lantai kamar.

“Ayu.., masuk..! Duduklah Ayu..!” kata Pak Manto serak.
Lalu Ayu berjongkok dan duduk di atas karpet merah yang telah disediakan Pak Manto. Sambil komat kamit, Pak Manto memerintahkan Ayu untuk memandang matanya.
“Nah, pandanglah mata saya Ayu..!” kata Manto lagi.
Inilah kesalahan fatal bagi Ayu, ia menatap mata Pak Manto.

Lalu Pak Manto yang saat itu hanya mengenakan sarung, berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk menguncinya dari dalam. Ayu  yang telah terpaku oleh pengaruh Pak Manto hanya duduk diam, nafasnya nampak naik turun karena gairah nafsunya amat menghentak-hentak kepalanya. Dari baju tidur sutra tipis itu tampak kulit tubuh Ayu yang amat menggoda selain akibat dari warna lampu 5 watt yang juga mempengaruhi kecantikan Ayu.

Pak Manto lalu berjalan ke arah belakang badan Ayu. Tangannya langsung meraih jemari Ayu. Sambil memeluk dari belakang, ia menciumi tengkuk yang berbulu halus itu dengan syahdu. Mata Ayu hanya merem melek menikmati sentuhan Pak Manto yang nota bene adalah pembantunya itu. Selama ia berada di daerah itu, ia belum sekali pun menginjakkan kakinya ke kamar Pak Manto, namun karena pengaruh pelet dari Pak Manto membuat ia mendatangi kamar itu.

Masih dari belakang tubuh Ayu, Pak Manto lalu meraih kedua payudara Ayu yang terbungkus baju tidur itu. Tangan Pak Manto meremas dan memilin bukit ranum itu. Lalu mulutnya ia gesekkan ke depan dan dikulumnya bibir Ayu yang merah jambu itu. Di bibir itu Pak Manto mencari-cari lidah Ayu, dengan napasnya ia menghirup lidah Ayu hingga Ayu merasa sesak napas. Tangan Pak Manto tidak mau kalah, dari dada Ayu tangan itu terus turun ke paha dan terus bergeser ke arah pangkal paha Ayu. Baju tidur itu ia singkapkan sehingga paha mulus itu jelas, dan Ayu masih memakai celana dalam putih tipis. Jari PAk Manto lalu bermain di dalam rongga kemaluan Ayu dan mengorek isi vaginanya.

Masih di atas karpet merah itu, terlihat sangat kontras sekali tubuh putih mulus Ayu yang mengenakan baju sutra tipis itu duduk bersila. Lalu Manto membuka kedua tali yang menahan baju itu dari bahu Ayu, sehingga baju itu terlepas ke bawah dan terpampang bahu putih serta payudara yang masih tertutuo BH 34C milik Ayu. Baju itu ia turunkan terus dan lalu tali BH itu ia buka pengaitnya dari belakang, sehingga kedua bukit salju Ayu terlihat jelas.

Dengan mulutnya, kedua puting berwarna merah jambu pada bukit indah itu dijilat inci demi inci oleh Pak Manto dengan rakus. Sesekali ia gigit dengan lembut, sehingga menambah kenikmatan dan sensasi tersendiri bagi Ayu. Dari mulut Ayu hanya terdengar dengusan kenikmatan ingin permainan itu diteruskan cepat-cepat oleh Pak Manto. Pak Manto yang telah berpengalaman itu pun tahu titik kelemahan Ayu, ia terus memancing setiap inci dari tubuh Ayu dengan lidahnya.

Lalu Pak Manto membuka celana dalam Ayu, dan terlihat liang kenikmatan Ayu yang masih rapat itu. Meskipun Ayu telah melahirkan, namun liang vaginanya masih rapat, itu karena saat melahirkan ia melakukan bedah caesar, sehingga tidak mempengaruhi bentuk vaginanya. Ia juga rajin olah kebugaran hingga perutnya tetap rata.

Lalu Pak Manto menggeser mulutnya ke bawah pusar Ayu dan berhenti di lubang yang ditutup oleh bulu halus terawat itu. Lubang vagina Ayu diobok-obok dengan lidahnya sehingga mengeluarkan bau yang khas yang memancing gairah Pak Manto.

Kemudian Pak Manto mengambil posisi membelakangi Ayu dan ia mengarahkan penisnya yang panjang seperti pisang Flores itu ke mulut Ayu. Di bibir Ayu penis itu masuk, Ayu menerima kepala penis itu dan mengulumnya hingga tuntas dan terus dikocok hingga kepala penis yang telah lama tidak dipakai itu menghitam dan memuntahkan larvanya karena dikocok oleh mulut Ayu selama 15 menit. Sempat Ayu menelan sperma Pak Manto dan ia terus menjilati kepala baja hitam itu. Pak Manto pun terus memanjakan lubang vagina Ayu berulang-ulang, ia tidak perduli Ayu telah beberapa kali orgasme dengan adanya lonjakan-lonjakan panjang pada tubuh Ayu.

Tidak lama Pak Manto merubah posisinya, ia saat itu berhadap-hadapan dengan Ayu yang masih terbaring di atas karpet tebal kamar itu. Dengan tangannya Pak Manto memasuki lubang Ayu, ia mengorek terus kemaluan Ayu. Ayu hanya meregang menahan geli dan nafsu, sedang tubuh putih mulus itu telah basah bersimbah keringat karena permainan permulaan itu.

Ketika Pak Manto mersa yakin kalau Ayu telah terbangkitkan nafsunya, lalu ia membuka kedua kaki Ayu dan meletakkan bantal. Ia tidak ingin penetrasi yang diinginkannya itu gagal, ia telah lama memimpikan saat ini. Sesekali tangannya meraih payudara yang mulai tegak memerah itu. Kepala Ayu hanya menggeleng-geleng dan menarik kepalanya menahan nikmat yang menjalari lubang kewanitaanya. Lalu Pak Manto membuka kaki Ayu dan lubang itu jelas terlihat, ia mengangkangkan kaki Ayu dan penis yang telah tegak menghitam itu terarah ke lubang vagina Ayu.

Saat baru saja kepala baja itu masuk, ada rasa nyeri pada diri Ayu.
“Aauu..! Nyilu Pak..!” kata Ayu.
“Diam dulu Ayu.., hanya sebentar..!” kata Pak Manto.
Lalu Manto mendorong seluruh batang kejantanannya masuk ke dalam lubang kewanitaan Ayu. Ia menggenjot terus tanpa menghiraukan keluhan dan rasa nyeri pada lubang Ayu, namun Ayu menuruti setiap gerakan Pak Manto yang maju mundur dalam lubang vagina itu.

Keringat kembali membasahi tubuh kedua mahkluk berlainan suku itu. Di antara kedua kaki Ayu tampak kaki Pak Manto terus bertumpu menahan gerakan pinggulnya yang maju mundur. Kedua kaki Ayu terus menerjang ke kiri dan kanan, ia merasakan kenikmatan yang amat dalam, sementara kedua tangan Ayu mencari-cari pegangan. Lalu ia bertumpu pada bahu Pak Manto, ia sempat mencengkram bahu Pak Manto karena merasakan nikmat yang tidak terhingga.

Gerakan penis Pak Manto terus mengaduk-aduk lubang kewanitaan Ayu, maju mundur. Meskipun telah berusia senja, Pak Manto masih memiliki kemampuan untuk berhubungan sex dengan wanita, tenaganya tidak kalah dengan Yudi. Di dalam kepala Pak Manto saat itu adalah terus menggenjot Ayu hingga Ayu beberapa kali orgasme. Ia amat sakit hati diperlakukan Ayu dan Yudi, dengan cara itulah ia membalasnya.

Ayu terus digenjot Pak Manto, tulang berulangnya serasa dilolosi Pak Manto. Permainan sex itu telah berlangsung 28 menit, namun Pak Manto belum juga memuntahkan maninya, ia terus melakukan gerakan berputar-putar pada saat penisnya masih dalam lubang Ayu. Lalu ia memegang kedua tangan Ayu, dan mulutnya terus berada di atas puting susu Ayu. Pada akhirnya, setelah 36 menit ia menggenjot, barulah mani Pak Manto tumpah di dalam lubang vagina Ayu sebanyak-banyaknya, sedang penis besar itu masih terus tertanam di dalam lubang kemaluan Ayu.

Ayu amat puas, belum pernah rasanya ia merasakan kepuasan yang seperti itu selama ia berhubungan sex dengan Yudi. Namun belum apa-apa dibanding Pak Manto, Pak Manto amat pandai mengatur tempo permainan, sedang Yudi yang juga memiliki segudang cara dalam bersenggama tetap jauh tertinggal dari Pak Manto ini.

Menjelang pagi Pak Manto terus mempermainkan nafsu dan gairah Ayu sampai 3 kali. Saat itu cuaca pun amat berpihak pada Pak Manto, selain hujan badai di luar rumah, pembantu dan anak Ayu tidak terbangun, inilah yang amat menggembirakan Pak Manto. Setelah subuh barulah Ayu bangun dari karpet itu dan kembali memakai celana dalam dan BH-nya, lalu ia pasangkan baju tidurnya tadi. Terlihat keletihan yang mendalam pada wajah Ayu. Ia keluar dari kamar Pak Manto dan naik ke kamarnya di lantai atas, lalu ia membersihkan badan dan mandi, masih ada sisa-sisa sperma Pak Manto pada bibir dan pada kedua pahanya.

Sejak saat itu hubungan Ayu dan Pak Manto semakin intim saat Yudi tidak ada di rumah. Mereka berdua terus mengayuh biduk kemesraan di kamar Pak Manto atau di ranjang Ayu dan Yudi. Pak Manto selalu melakukan ‘aji penglimunan’, sehingga seluruh penghuni rumah itu tertidur kecuali Ayu dan dirinya.

Pak Manto pun jika sedang berhasrat untuk melakukan hub sex akan memanggil Ayu dengan caranya. Pernah saat Yudi sedang ada di rumah, sedangkan gairahnya menghentak-hentak, maka dengan melafazkan mantranya Ayu datang ke kamarnya, dan saat itu ia menuntaskan nafsunya ke tubuh Ayu.

Bagaimanapun saat itu Ayu ada dalam gengamannya dan ia pun tidak menginginkan perkawinan Ayu dan Yudi hancur, maka Pak Manto pandai-pandai mengatur saat-saat kebersamaannya dengan Ayu. Ayu pun menurut kepada perintah Pak Manto. Pak Manto amat menjaga rahasia ini.

Sejak itu pun setiap atau apapun keinginan Pak Manto baik tubuh atau segi keuangan selalu terpenuhi, ia tinggal meminta kepada Ayu. Pak Manto saat itu memang sudah uzur, namun ia amat pandai mengatur siasat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ayu pun terus melayani Yudi suaminya sebagai mana biasa, tidak ada keganjilan yang ditangkap Yudi.

Pak Manto mengetahui Ayu tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh peletnya, Yudi pun secara tidak langsung telah masuk ke dalam genggamannya. Secara logika Pak Manto memanglah seorang pria yang dilahirkan dengan kemampuan sex yang luar biasa, saat jadi penjahat dulu tidak sedikit wanita baik-baik dan pelacur yang digaulinya. Hingga saat ini pun Ayu  masih terus digauli Pak Manto sesukanya, tidak memandang tempat dan waktu, yang pasti adalah ketika Yudi tidak di rumah.

Demikian Cerita Seks Ngentot Dengan Tante Girang Bahenol admin rangkum untuk bisa dinikmati bagi para pecinta Cerita-Cerita Seks Dewasa, Nantikan Cerita Seks, Cerita Dewasa, Cerita Tante Girang, Cerita Sedarah lain nya hanya di sukasange.com

Tinggalkan Balasan

Top